Produk 27 Mei 2026

Kenapa Kami Akhirnya Bangun Fitur Inventory (Padahal Awalnya Mau Skip)

Inventory management itu scope-nya gede. Kami awalnya taruh di roadmap nanti — sampai kami dengar masalah yang sama berulang kali.

T
Tim CrescendPOS

Awalnya Kami Bilang Nanti

Inventory management itu scope-nya gede: resep, stok, opname, waste. Masing-masing bisa jadi product sendiri. Di awal development, kami taruh di roadmap belakang. "Yang penting kasir dulu."

Masalah yang Terus Muncul

Dari percakapan dengan pengguna, satu pain point yang muncul berulang: "Nggak tahu berapa bahan yang harus dibeli besok." Kadang kurang — pelanggan kecewa. Kadang kebanyakan — terbuang. Setiap hari nebak.

Variasi lain: "Nggak tahu stok susu yang tersisa." "Nggak tahu menu mana yang paling boros bahan." "Nggak tahu kapan harus restock."

POS Tanpa Inventory = Setengah Solusi

POS yang cuma handle transaksi itu accounting tool. Untuk jadi operations tool, transaksi harus terkoneksi ke stok. Setiap kopi yang terjual harus ngurangin stok biji kopi. Setiap nasi goreng harus ngurangin stok beras, telur, minyak.

Scope yang Kami Pilih

Kami nggak bikin full warehouse management. Yang kami bikin: resep per produk, auto-deduct saat pesanan selesai, low stock alert, opname stok manual, dan waste tracking. Cukup untuk warung kecil sampai kafe medium. Full ERP-level inventory? Itu memang untuk tahap berikutnya.