Panduan 30 Mei 2026 · Diperbarui: 02 Agustus 2026

Cara Menghitung Harga Jual dari Food Cost: Panduan Step-by-Step

Banyak pemilik kafe yang set harga berdasarkan feeling atau kompetitor. Padahal ada cara hitung yang simpel dari food cost. Ini panduannya.

T
Tim CrescendPOS

Kenapa Harga Jual Harus Dihitung, Bukan Ditebak

Kalau ditanya kenapa harga Nasi Goreng Spesial di kafe kamu Rp 35.000, jawaban yang paling jujur biasanya begini: "ya segitu, soalnya kafe sebelah juga segini." Itu bukan strategi harga, itu menebak. Dan menebak itu mahal.

Harga jual yang terlalu rendah bikin kamu kerja keras dari pagi sampai malam tapi untungnya tipis. Harga yang terlalu tinggi bikin pelanggan banding-bandingin lalu pindah ke tempat lain. Di antara dua ekstrem itu ada angka yang bisa dihitung, dan perhitungannya berangkat dari satu hal: food cost.

Food cost adalah rasio biaya bahan baku terhadap harga jual. Kalau kamu paham cara menghitungnya, kamu nggak perlu bingung lagi menentukan harga menu mana pun. Artikel ini bakal nuntun kamu dari nol: menghitung biaya satu porsi, menentukan target food cost, sampai jadi angka harga jual final yang siap ditempel di menu.

Langkah 1: Tulis Semua Bahan dalam Satu Resep

Ambil satu item menu yang paling laris — yang paling banyak kamu jual, bukan yang paling kamu suka buat diri sendiri. Tulis semua bahan yang masuk ke dalam satu porsi, lalu timbang dan catat betul-betul. Jangan menulis dari hafalan, karena hafalan itu tukang nambahin kata "kira-kira".

Contoh daftar untuk Nasi Goreng Spesial:

  • Nasi 250 gram
  • Ayam suwir 80 gram
  • Telur 1 butir
  • Minyak goreng 2 sendok makan
  • Saus tiram dan kecap manis masing-masing 1 sendok makan
  • Bawang goreng, kerupuk, dan sambal untuk pelengkap
  • Kemasan takeaway, sendok, dan tisu

Kesalahan terbesar di langkah ini adalah melupakan bahan pelengkap. Kecap, minyak, sambal, kerupuk — bahan kecil-kecil ini kalau diabaikan bisa bikin perhitunganmu meleset sampai 10 persen. Kalau kamu jualan untuk dibawa pulang, kemasan dan sendok juga masuk hitungan, bukan?

Langkah 2: Ubah Semua Bahan Jadi Rupiah per Porsi

Sekarang ubah tiap bahan menjadi biaya per porsi. Caranya sederhana: harga beli dibagi takaran pembelian, lalu dikali pemakaian per porsi.

Praktiknya begini. Ayam kamu beli Rp 45.000 per kilogram. Satu porsi pakai 80 gram, jadi biaya ayamnya 80 dibagi 1000, dikali Rp 45.000, hasilnya Rp 3.600. Beras kamu beli Rp 130.000 per karung 10 kilogram, artinya Rp 13.000 per kilogram. Nasi 250 gram berarti Rp 3.250. Telur satu butir kira-kira Rp 3.000. Minyak, saus, kecap, dan taburan total sekitar Rp 2.500. Kemasan takeaway lengkap Rp 1.200.

Kalau dijumlahkan: Rp 13.550 untuk satu porsi Nasi Goreng Spesial. Angka ini adalah HPP (harga pokok penjualan) per porsi kamu. Tulis di spreadsheet atau buku catatan — jangan cuma diingat di kepala, karena kepala suka membulatkan ke angka yang nyaman.

Langkah 3: Tentukan Target Food Cost yang Masuk Akal

Food cost adalah persentase HPP terhadap harga jual. Kalau satu porsi kamu jual Rp 45.000 dan HPP-nya Rp 13.550, food cost-nya sekitar 30 persen. Standar umum kafe dan restoran di Indonesia adalah 30 sampai 35 persen. Menu berbahan daging sapi atau salmon bisa wajar di angka 38 persen, sedangkan minuman biasanya jauh lebih rendah, di kisaran 15 sampai 25 persen.

Kalau kamu jualan lewat GoFood atau GrabFood, ingat: komisi platform itu biaya terpisah, bukan bagian dari food cost. Hitung komisi itu sendiri-sendiri supaya kamu bisa lihat berapa sebenarnya ongkos jualan online kamu, dan jangan diam-diam menaikkan food cost target buat menutupinya.

Langkah 4: Hitung Harga Jual Dasar

Rumusnya: Harga Jual = HPP : Target Food Cost. Dengan HPP Rp 13.550 dan target food cost 30 persen, hitungannya: 13.550 dibagi 0,30, hasilnya Rp 45.167. Bulatkan ke atas menjadi Rp 46.000 atau Rp 47.000.

Kalau hasilnya terasa kemahalan untuk pasar di sekitar kafe kamu, jangan buru-buru menurunkan target food cost. Memaksa food cost di bawah 25 persen artinya kamu kerja hanya untuk memberi makan bahan baku. Lebih sehat menurunkan HPP: kecilkan porsi, ganti bahan dengan yang setara tapi lebih murah, atau cari supplier baru di pasar. Semua itu lebih baik daripada meminta pelanggan membayar harga yang pasar tolak.

Trik kecil: bulatkan ke angka yang terasa "bersih". Rp 47.000 terasa lebih masuk akal di mata pelanggan daripada Rp 47.167, dan selisih Rp 833 itu tetap ada di kantong kamu.

Langkah 5: Tambahkan Faktor Susut dan Kesalahan Masak

Tidak semua bahan yang kamu beli benar-benar sampai ke piring pelanggan. Ayam menyusut saat digoreng karena airnya keluar. Saus menempel di dasar wajan. Barista kadang menumpahkan susu. Kalau faktor ini diabaikan, HPP sebenarnya di dapur selalu lebih tinggi daripada hitungan di kertas.

Solusinya: tambahkan buffer 5 sampai 10 persen. Hitungannya, HPP Rp 13.550 dikali 1,07 menjadi Rp 14.498. Masukkan lagi ke rumus: 14.498 dibagi 0,30 sama dengan Rp 48.327. Bulatkan jadi Rp 49.000 atau Rp 50.000. Inilah harga jual final yang menutup semua biaya, termasuk kecelakaan kecil di dapur.

Kesalahan yang Sering Terjadi Waktu Menghitung Harga Jual

  • Lupa menghitung kemasan dan garnish, yang bisa melesetkan hitungan 5 persen atau lebih.
  • Memakai harga supermarket eceran padahal seharusnya beli dari supplier pasar atau distributor yang harganya jauh lebih rendah.
  • Menentukan harga dari harga pesaing tanpa menghitung HPP sendiri. Pesaing bisa untung besar karena supplier-nya beda, atau sengaja jual rugi untuk menarik pelanggan dulu.
  • Tidak pernah menghitung ulang setelah harga bahan naik. Harga ayam naik 10 persen tapi harga jual diam, margin kamu menyusut diam-diam setiap hari.

Mulai dari Tiga Menu Terlaris

Kamu tidak perlu menghitung semua 40 item menu dalam satu malam. Mulai dari tiga menu terlaris, karena dari situlah omzetmu datang. Lalu cek ulang setiap bulan, dan setiap kali harga bahan berubah drastis.

Setelah itu kamu akan tahu dengan pasti: menu mana yang menghidupkan kafe kamu, dan menu mana yang diam-diam memakan untung. Itulah perbedaan antara kafe yang mengira dan kafe yang tahu.

Dapatkan tips bisnis F&B di inbox kamu

Artikel baru, panduan operasional, dan insight bisnis untuk pemilik cafe & restoran. Gratis, kapan saja bisa berhenti.