Tips Bisnis 01 Juni 2026

Cara Menghitung Break-Even Point Kafe Kamu — dan Apa yang Harus Dilakukan Setelah Tahu

Banyak pemilik kafe tahu mereka belum untung, tapi nggak tahu kapan dan berapa yang harus dijual supaya impas. Break-even point bukan cuma angka — ini kompas untuk keputusan bisnis.

T
Tim CrescendPOS

Kenapa Break-Even Point Penting

"Bulan ini omzet Rp 25 juta. Kita untung nggak?" Kalau kamu nggak bisa langsung jawab pertanyaan ini dengan yakin, kemungkinan besar kamu belum tahu break-even point (BEP) kafe kamu.

BEP adalah titik dimana total pendapatan sama dengan total pengeluaran — nggak untung, nggak rugi. Di bawah BEP, kamu rugi. Di atas BEP, kamu mulai untung.

Mengetahui BEP penting karena:

  • Kamu tahu target minimum harian. "Kita harus jual minimal Rp 1.2 juta per hari supaya nggak rugi" — itu informasi yang bisa langsung ditindaklanjuti
  • Kamu bisa evaluasi keputusan. Mau tambah staf? Naikkan gaji? Ganti supplier? Semua keputusan ini menggeser BEP — kamu perlu tahu seberapa besar
  • Kamu punya early warning. Kalau 3 minggu berturut-turut di bawah BEP, itu sinyal bahwa sesuatu perlu berubah — sebelum uang habis

Langkah 1: Hitung Biaya Tetap Bulanan

Biaya tetap adalah pengeluaran yang harus kamu bayar terlepas dari berapa banyak kamu jual. Mau sepi mau ramai, angka ini sama:

  • Sewa tempat: misalnya Rp 5.000.000/bulan
  • Gaji staf: misalnya 3 orang × Rp 2.500.000 = Rp 7.500.000
  • Listrik dan air: misalnya Rp 2.000.000 (relatif stabil)
  • Internet: misalnya Rp 500.000
  • Langganan software (POS, dll): misalnya Rp 100.000
  • Cicilan peralatan: misalnya Rp 1.500.000
  • Lain-lain tetap: misalnya Rp 400.000

Total biaya tetap: Rp 17.000.000/bulan

Angka ini adalah minimum yang harus kamu cover sebelum satu rupiah pun jadi profit.

Langkah 2: Hitung Persentase Biaya Variabel

Biaya variabel naik dan turun sesuai volume penjualan. Semakin banyak kamu jual, semakin tinggi biaya variabel.

Untuk kafe, biaya variabel utama adalah:

  • Bahan baku (food cost): umumnya ditargetkan 25-35% dari harga jual. Kalau kamu jual Cappuccino Rp 28.000, bahan bakunya sekitar Rp 7.000-10.000
  • Kemasan (cup, lid, sedotan, kantong): biasanya 3-5% dari harga jual
  • Biaya transaksi (MDR QRIS): 0.3-0.7% dari transaksi digital

Untuk mempermudah, kita pakai angka gabungan. Misalnya total biaya variabel kamu adalah 35% dari penjualan.

Artinya: dari setiap Rp 100.000 penjualan, Rp 35.000 habis untuk biaya variabel. Sisanya Rp 65.000 adalah contribution margin — bagian yang bisa digunakan untuk menutup biaya tetap.

Langkah 3: Hitung BEP

Rumusnya sederhana:

BEP = Biaya Tetap ÷ Contribution Margin Ratio

Dengan angka contoh kita:

  • Biaya tetap: Rp 17.000.000
  • Contribution margin ratio: 65% (atau 0.65)
  • BEP = 17.000.000 ÷ 0.65 = Rp 26.150.000 per bulan

Artinya: kamu perlu omzet minimal Rp 26.15 juta per bulan supaya impas. Di bawah itu, kamu rugi. Di atas itu, kamu mulai untung.

Dikonversi ke harian (asumsi buka 26 hari sebulan):

BEP harian = Rp 26.150.000 ÷ 26 = Rp 1.006.000

Jadi target minimum harian kamu: sekitar Rp 1 juta.

Langkah 4: Konversi ke Jumlah Transaksi

Angka Rupiah itu penting, tapi lebih actionable kalau dikonversi ke jumlah transaksi. Kalau rata-rata transaksi di kafe kamu Rp 35.000:

BEP dalam transaksi = 1.006.000 ÷ 35.000 = sekitar 29 transaksi per hari

Sekarang kamu punya target yang sangat konkret: 29 transaksi per hari. Ini angka yang bisa kamu pantau di laporan POS setiap hari.

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Tahu BEP

Mengetahui BEP bukan tujuan — ini titik awal. Yang penting adalah apa yang kamu lakukan dengan informasi ini:

Kalau Kamu di Bawah BEP

Ada dua cara untuk bergerak ke atas BEP:

  • Naikkan revenue: lebih banyak pelanggan (marketing, visibility, promosi), atau average transaction lebih tinggi (upselling, menu baru yang lebih premium)
  • Turunkan biaya: negosiasi sewa, optimasi food cost (cari supplier lebih murah tanpa korbankan kualitas), evaluasi apakah semua staf diperlukan di semua jam

Biasanya kombinasi keduanya yang paling efektif. Tapi jangan panik dan langsung potong semua biaya — ada biaya yang kalau dipotong justru menurunkan revenue (misalnya potong staf → service lambat → pelanggan pergi).

Kalau Kamu di Atas BEP

Selamat — kamu profitable. Tapi pertanyaan berikutnya: seberapa jauh di atas?

  • Tipis di atas BEP (margin 5-10%): rentan. Satu bulan hujan terus atau satu mesin rusak bisa mendorong kamu ke bawah. Focus pada memperlebar margin
  • Comfortably di atas (margin 15-25%): sehat. Kamu punya buffer untuk invest — tambah menu, upgrade peralatan, atau mulai marketing yang lebih agresif
  • Jauh di atas (margin >25%): rare untuk kafe kecil, tapi kalau kamu di sini, ini saatnya berpikir tentang scaling — lokasi kedua, atau reinvest untuk efisiensi lebih lanjut

BEP Bergerak — Update Rutin

BEP bukan angka yang kamu hitung sekali dan selesai. Setiap kali ada perubahan biaya, BEP-mu bergeser:

  • Sewa naik → BEP naik
  • Tambah staf → BEP naik
  • Harga bahan baku naik → BEP naik
  • Naikkan harga menu → BEP turun
  • Food cost membaik → BEP turun

Update perhitungan BEP minimal setiap 3 bulan, atau setiap kali ada perubahan signifikan di biaya. Ini cuma butuh 10 menit dengan kalkulator — dan insight-nya bisa menyelamatkan bisnis kamu.

Kesimpulan

Break-even point bukan rumus akademis — ini alat survival paling dasar untuk bisnis kafe. Kalau kamu belum tahu BEP kamu, hitung sekarang. Kalau sudah tahu, pastikan angkanya masih akurat.

Kafe yang tahu BEP-nya membuat keputusan berdasarkan data. Kafe yang nggak tahu membuat keputusan berdasarkan perasaan. Dalam jangka panjang, data hampir selalu menang.

Dapatkan tips bisnis F&B di inbox kamu

Artikel baru, panduan operasional, dan insight bisnis untuk pemilik cafe & restoran. Gratis, kapan saja bisa berhenti.