Panduan 02 Agustus 2026

Cara Menghitung HPP (Harga Pokok Penjualan) per Porsi untuk Setiap Item Menu

Banyak pemilik kafe yang tahu harga jual tapi nggak tahu harga pokok per porsi. Padahal ini angka yang menentukan margin kamu sebenarnya. Ini cara hitungnya — simple dan praktis.

T
Tim CrescendPOS

Kenapa HPP per Porsi Itu Penting

Kamu tahu harga jual Latte kamu Rp 28.000. Tapi kamu tahu nggak berapa biaya bahan baku untuk bikin satu gelas Latte itu? Kalau jawabannya "kira-kira sih..." — kamu nggak sendirian, tapi ini masalah.

HPP (Harga Pokok Penjualan) per porsi adalah total biaya bahan baku yang dipakai untuk membuat satu item menu. Ini bukan harga jual — ini biaya yang kamu keluarkan sebelum pelanggan bayar apapun.

Tanpa tahu HPP, kamu nggak bisa tahu margin sebenarnya. Bisa aja item yang kamu pikir paling menguntungkan ternyata margin-nya tipis karena bahan bakunya mahal. Atau item yang jarang kamu promosikan justru punya margin paling gede.

Langkah 1: List Semua Bahan per Resep

Ambil satu item menu. Misalnya: Iced Latte.

Tulis semua bahan yang dipakai untuk membuat satu porsi, termasuk yang kelihatannya kecil:

  • Biji kopi (espresso shot)
  • Susu
  • Es batu
  • Gula cair (kalau default)
  • Cup plastik / gelas
  • Sedotan
  • Lid

Jangan skip bahan-bahan kecil. Cup, sedotan, dan lid itu cost — dan kalau kamu jual 100 Iced Latte per hari, cost kecil per unit jadi besar secara total.

Langkah 2: Tentukan Takaran per Porsi

Untuk setiap bahan, tentukan berapa banyak yang dipakai per porsi. Pakai satuan yang konsisten:

  • Biji kopi: 18 gram (double shot)
  • Susu: 200 ml
  • Es batu: 150 gram
  • Gula cair: 15 ml
  • Cup plastik: 1 buah
  • Sedotan: 1 buah
  • Lid: 1 buah

Kalau resep kamu belum punya takaran pasti, ini saatnya bikin. Resep tanpa ukuran = HPP yang nggak bisa dihitung akurat.

Langkah 3: Cari Harga Beli per Satuan Kecil

Ini bagian yang sering bikin pusing tapi paling penting. Kamu beli biji kopi per kilogram, tapi pakai per gram. Jadi kamu perlu konversi:

  • Biji kopi: Rp 180.000/kg → Rp 180/gram
  • Susu: Rp 18.000/liter → Rp 18/ml
  • Es batu: Rp 10.000/5kg → Rp 2/gram
  • Gula cair: Rp 25.000/liter → Rp 25/ml
  • Cup plastik: Rp 50.000/50pcs → Rp 1.000/buah
  • Sedotan: Rp 15.000/100pcs → Rp 150/buah
  • Lid: Rp 30.000/50pcs → Rp 600/buah

Tips: gunakan harga beli terakhir kamu, bukan harga rata-rata. Ini memberi gambaran yang lebih akurat tentang cost kamu saat ini.

Langkah 4: Kalikan dan Jumlahkan

Sekarang tinggal kalikan takaran × harga per satuan:

  • Biji kopi: 18g × Rp 180 = Rp 3.240
  • Susu: 200ml × Rp 18 = Rp 3.600
  • Es batu: 150g × Rp 2 = Rp 300
  • Gula cair: 15ml × Rp 25 = Rp 375
  • Cup: 1 × Rp 1.000 = Rp 1.000
  • Sedotan: 1 × Rp 150 = Rp 150
  • Lid: 1 × Rp 600 = Rp 600

Total HPP per porsi: Rp 9.265

Kalau harga jual Iced Latte kamu Rp 28.000, maka:

  • Margin kotor: Rp 28.000 - Rp 9.265 = Rp 18.735
  • Food cost percentage: Rp 9.265 / Rp 28.000 = 33%

Secara umum, food cost di range 25-35% dianggap sehat untuk bisnis F&B. Di atas 40% artinya margin kamu terlalu tipis — kecuali volume penjualan kamu sangat tinggi.

Langkah 5: Ulangi untuk Semua Item

Ya, ini butuh waktu. Tapi kamu nggak perlu selesaikan semua dalam satu hari. Mulai dari:

  1. Top 10 item terlaris. Ini yang paling impact ke total margin kamu.
  2. Item yang kamu curigai margin-nya tipis. Biasanya item yang bahan bakunya mahal atau porsinya besar.
  3. Item baru yang mau kamu launch. Hitung HPP sebelum menentukan harga jual.

Setelah punya data untuk top 10, kamu udah punya gambaran yang jauh lebih baik tentang margin bisnis kamu.

Tools: Spreadsheet Cukup

Kamu nggak butuh software khusus. Google Sheet atau Excel dengan kolom berikut sudah cukup:

  • Kolom A: Nama bahan
  • Kolom B: Satuan beli (kg, liter, pack)
  • Kolom C: Harga beli per satuan beli
  • Kolom D: Takaran per porsi (gram, ml, buah)
  • Kolom E: Harga per satuan kecil (dari konversi kolom C)
  • Kolom F: Cost per porsi (D × E)

Bikin satu sheet per item menu. Total kolom F = HPP per porsi. Simple.

Kapan Harus Update HPP

HPP bukan angka yang dihitung sekali lalu dilupakan. Update kalau:

  • Harga bahan naik. Kalau supplier naikin harga susu 15%, HPP semua menu yang pakai susu berubah.
  • Kamu ganti supplier. Supplier baru mungkin lebih murah atau lebih mahal — HPP berubah.
  • Kamu ubah resep. Nambah shot espresso? HPP naik. Ganti susu regular ke oat milk? HPP naik signifikan.
  • Minimal setiap 3 bulan — bahkan kalau nggak ada perubahan yang kamu sadari. Harga bahan cenderung naik gradual.

Apa yang HPP Bilang ke Kamu

Setelah punya data HPP untuk semua item, kamu bisa ambil keputusan yang lebih informed:

  • Harga jual perlu dinaikkan? Kalau food cost beberapa item di atas 40%, mungkin harga jualnya terlalu rendah.
  • Item mana yang harus dipromosikan? Item dengan food cost rendah dan demand tinggi = item yang harus jadi unggulan.
  • Item mana yang perlu dievaluasi? Item dengan food cost tinggi tapi penjualan rendah mungkin nggak worth it ada di menu.
  • Dimana bisa efisiensi? Mungkin ganti supplier untuk satu bahan bisa nurunin HPP beberapa item sekaligus.

Kesimpulan

Menghitung HPP per porsi itu nggak glamor, tapi ini salah satu hal paling fundamental dalam menjalankan bisnis F&B. Tanpa HPP, kamu menentukan harga berdasarkan feeling. Dengan HPP, kamu menentukan harga berdasarkan data. Mulai dari 10 item terlaris kamu, sisihkan 2-3 jam akhir pekan ini, dan kamu bakal punya clarity yang mengubah cara kamu lihat menu.

Dapatkan tips bisnis F&B di inbox kamu

Artikel baru, panduan operasional, dan insight bisnis untuk pemilik cafe & restoran. Gratis, kapan saja bisa berhenti.